Adsensecamp

Kamis, 16 Februari 2012

Itu Hanya Segelas Bir Yang getir

“Itu hanya segelas bir yang getir”
Fikirku ketika kulihat seorang  yang sedang duduk di dalam cafe di depan segelas bir yang tak lagi berbuih. Dia terlihat kalut dengan dasi yang terpasang sekenanya di kerah bajunya, rambut yang tak tahu kmana arah tujuannya,dan matanya yang berkantung mempertegas betapa dia sedang dalam kekalutan.
Ketika kudekati terlihat paras yang tak asing di mataku, paras yang selama ini terlihat bahagia dengan segala hal yang dia inginlan dapat dengan mudah terwujudkan. Dia seorang eksekutif muda yang bisa dibilang berhasil menjemput impiannya. “tapi apa yang dia lakukannya dengan keadaanya sekarang ini..???”, aku hanya bertanya dalam benakku.
Ku dekati perlahan, dan akupun duduk di hadapannya karena penasaran.”siapa kamu...?,malaikat maut...??”, tanyanya dengan mata yang sayup, terlihat putus asa dan tak tergambar harapan di dalamnya. “bukan pak..., saya disha tetangga bapak...”, jawabku.”mungkin bapak belum pernah melihat saya, karena saya perhatikan hampir setiap hari bapak tidak ada dirumah.” Lanjutku.”owh...” jawabnya singkat. “tumben sekali bapak mampir kesini...??”, tanyaku berusaha mencairkan suasana.”iya, sedang apa kamu disini..??” balasnya dengan sedikit ketidaksadaran bersamanya karena bir yang telah ia minum sebelumnya.”saya bekerja di cafe ini pak, part time sambil kuliah... bapak perlu teman..??” tanyaku melihat kondisinya yang sepertinya sedang dalam kebimbangan.
“semuanya hancur....!!”, tiba2 ia memukul meja dengan keras.”semuanya hanya tinggal impian yang mati, mimpi yang sudah lama ku bangun sekarang hanya tinggal puing2 yang tak lagi berguna..,.”. “jadi bapak kesini hanya sebagai tempat pelarian masalah..??”
“tapi itu hanya segelas bir yang getir, seberapa banyak engkau menghabiskan, takkan pernah bisa mengembalikan hal yang hilang..” fikirku.
“Coba ceritakan pak, mungkin bisa melegakan nafas bapak..” ajakku.lalu dia menunduk dan berkata, “disini bukan tempat pelarian, hanya untuk sejenak melupakan masalah....namanya nadia, orang yang selama ini aku cinta, hampir seluruh jiwa dan raga telah kucurahkan untuk nadia. Dia perempuan yang luar biasa, mulanya memang tak mudah mendapatkannya, butuh perjuangan yang hebat untuk mendapatkan nadia, jangankan memiliki, untuk mendekatinya merupakan hal yang luar biasa susah, butuh perjuangan, berharap nadia memiliki perasaan yang sama..”.
 ku perhatikan, raut wajahnya berubah seperti sedang mengenang seseorang yang sangat berharga di hidupnya.dengan sesekali meneguk bir yang tak lagi berbuih di hadapannya.


“itu bukan perjuangan yang sebentar, hingga akhirnya saya berhasil membuat nadia memiliki perasaan yang sama. Tapi.....” ceritanya terhenti sejenak.”tapi apa pak..?” tanyaku. Setelah kembali meneguk bir, dia kembali menceritakan kisahnya,”tapi.....hal yang paling saya elakan pun terjadi,nadia pergi dari hidup saya,semua harapan,janji,impian pergi bersama nadia, orang yang selama ini ku cinta,orang yang berharga  dalam hidup saya...bila bisa membuatnya kembali, akan kuberikan segalanya, meski segala yang ku punya....”.
Kulihat air mata mengalir bersama dengan diteguknya kembali segelas bir yang tak lagi berbuih itu.
“harapan itu akan selalu ada,  dan orang yang punya harapan adalah orang yang punya segalanya...”jawabku, dia hanya tersenyum dan berkata,”tapi harapan itu tidak bisa mengmbalikan nadia...”.”dan itulah hidup, dan hidup seperti segelas bir, kita bisa memesan berapapun bir yang kita mau,kita bisa meneguk bir sebanyak yang kita mau, kita bisa mengembalikan buih bir yang telah hilang, tapi bir yang kita pesan itu bukanlah bir yang sama dengan bir yang telah kita teguk,buih yang terbentuk buakanlah buih yang sama dengan buih yang telah hilang, dan bir yang telah kita teguk takkan bisa kita kembalikan lagi ke dalam gelas..”kataku.

dan itu hanya segelas bir yang getir, seberapa banyak engkau menghabiskan, takkan pernah bisa mengembalikan hal yang hilang..

“apa hubungannya hidup dengan bir...??”tanyanya. “hidup akan mengganti hal yang telah hilang itu dengan hal yang lebih baik, seperti halnya bir, mereka terlihat seperti bir yang sama di tiap tegukkan, tapi sesungguhnya mereka bir yang berbeda, dan bir yang berbeda itu menggantikan bir yang telah terteguk...”lalu dia tersenyum, diam dan menunduk memandangi segelas bir yang tak lagi berbuih dan hampir tak tersisa, seperti memikirkan segala obrolan yang kami bicarakan.
Hampir sepanjang malam itu dia bercerita, meluapkan segala kekalutan dan kegundahan hatinya. Dan malam itupun aku mendapat hal yang berharga, bahwa hal yang sesungguhnya kita tuju bukanlah materi. Tapi, hal yang kita tuju adalah kebahagiaan dan kasih sayang karena, kebahagiaan dan kasih sayang itu takkan pernah bisa tergantikan dengan berapapun materi yang kita miliki. Dan hidup akan selalu memberi hal yang terbaik. Dan kenangan indah yang hilang akan membuat kita belajar untuk melepaskannya seperti seteguk bir.

dan itu hanya segelas bir yang getir, seberapa banyak engkau menghabiskan, takkan pernah bisa mengembalikan hal yang hilang..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar