“Itu hanya segelas bir yang getir”
Fikirku
ketika kulihat seorang yang sedang duduk di dalam cafe di depan segelas
bir yang tak lagi berbuih. Dia terlihat kalut dengan dasi yang
terpasang sekenanya di kerah bajunya, rambut yang tak tahu kmana arah
tujuannya,dan matanya yang berkantung mempertegas betapa dia sedang
dalam kekalutan.
Ketika kudekati terlihat paras yang tak asing di
mataku, paras yang selama ini terlihat bahagia dengan segala hal yang
dia inginlan dapat dengan mudah terwujudkan. Dia seorang eksekutif muda
yang bisa dibilang berhasil menjemput impiannya. “tapi apa yang dia
lakukannya dengan keadaanya sekarang ini..???”, aku hanya bertanya dalam
benakku.
Ku dekati perlahan, dan akupun duduk di hadapannya
karena penasaran.”siapa kamu...?,malaikat maut...??”, tanyanya dengan
mata yang sayup, terlihat putus asa dan tak tergambar harapan di
dalamnya. “bukan pak..., saya disha tetangga bapak...”, jawabku.”mungkin
bapak belum pernah melihat saya, karena saya perhatikan hampir setiap
hari bapak tidak ada dirumah.” Lanjutku.”owh...” jawabnya singkat.
“tumben sekali bapak mampir kesini...??”, tanyaku berusaha mencairkan
suasana.”iya, sedang apa kamu disini..??” balasnya dengan sedikit
ketidaksadaran bersamanya karena bir yang telah ia minum
sebelumnya.”saya bekerja di cafe ini pak, part time sambil kuliah...
bapak perlu teman..??” tanyaku melihat kondisinya yang sepertinya sedang
dalam kebimbangan.
“semuanya hancur....!!”, tiba2 ia memukul meja
dengan keras.”semuanya hanya tinggal impian yang mati, mimpi yang sudah
lama ku bangun sekarang hanya tinggal puing2 yang tak lagi
berguna..,.”. “jadi bapak kesini hanya sebagai tempat pelarian
masalah..??”
“tapi itu hanya segelas bir yang getir, seberapa
banyak engkau menghabiskan, takkan pernah bisa mengembalikan hal yang
hilang..” fikirku.
“Coba ceritakan pak, mungkin bisa melegakan
nafas bapak..” ajakku.lalu dia menunduk dan berkata, “disini bukan
tempat pelarian, hanya untuk sejenak melupakan masalah....namanya nadia,
orang yang selama ini aku cinta, hampir seluruh jiwa dan raga telah
kucurahkan untuk nadia. Dia perempuan yang luar biasa, mulanya memang
tak mudah mendapatkannya, butuh perjuangan yang hebat untuk mendapatkan
nadia, jangankan memiliki, untuk mendekatinya merupakan hal yang luar
biasa susah, butuh perjuangan, berharap nadia memiliki perasaan yang
sama..”.
ku perhatikan, raut wajahnya berubah seperti sedang
mengenang seseorang yang sangat berharga di hidupnya.dengan sesekali
meneguk bir yang tak lagi berbuih di hadapannya.
“itu
bukan perjuangan yang sebentar, hingga akhirnya saya berhasil membuat
nadia memiliki perasaan yang sama. Tapi.....” ceritanya terhenti
sejenak.”tapi apa pak..?” tanyaku. Setelah kembali meneguk bir, dia
kembali menceritakan kisahnya,”tapi.....hal yang paling saya elakan pun
terjadi,nadia pergi dari hidup saya,semua harapan,janji,impian pergi
bersama nadia, orang yang selama ini ku cinta,orang yang berharga dalam
hidup saya...bila bisa membuatnya kembali, akan kuberikan segalanya,
meski segala yang ku punya....”.
Kulihat air mata mengalir bersama dengan diteguknya kembali segelas bir yang tak lagi berbuih itu.
“harapan
itu akan selalu ada, dan orang yang punya harapan adalah orang yang
punya segalanya...”jawabku, dia hanya tersenyum dan berkata,”tapi
harapan itu tidak bisa mengmbalikan nadia...”.”dan itulah hidup, dan
hidup seperti segelas bir, kita bisa memesan berapapun bir yang kita
mau,kita bisa meneguk bir sebanyak yang kita mau, kita bisa
mengembalikan buih bir yang telah hilang, tapi bir yang kita pesan itu
bukanlah bir yang sama dengan bir yang telah kita teguk,buih yang
terbentuk buakanlah buih yang sama dengan buih yang telah hilang, dan
bir yang telah kita teguk takkan bisa kita kembalikan lagi ke dalam
gelas..”kataku.
dan itu hanya segelas bir yang getir, seberapa banyak engkau menghabiskan, takkan pernah bisa mengembalikan hal yang hilang..
“apa
hubungannya hidup dengan bir...??”tanyanya. “hidup akan mengganti hal
yang telah hilang itu dengan hal yang lebih baik, seperti halnya bir,
mereka terlihat seperti bir yang sama di tiap tegukkan, tapi
sesungguhnya mereka bir yang berbeda, dan bir yang berbeda itu
menggantikan bir yang telah terteguk...”lalu dia tersenyum, diam dan
menunduk memandangi segelas bir yang tak lagi berbuih dan hampir tak
tersisa, seperti memikirkan segala obrolan yang kami bicarakan.
Hampir
sepanjang malam itu dia bercerita, meluapkan segala kekalutan dan
kegundahan hatinya. Dan malam itupun aku mendapat hal yang berharga,
bahwa hal yang sesungguhnya kita tuju bukanlah materi. Tapi, hal yang
kita tuju adalah kebahagiaan dan kasih sayang karena, kebahagiaan dan
kasih sayang itu takkan pernah bisa tergantikan dengan berapapun materi
yang kita miliki. Dan hidup akan selalu memberi hal yang terbaik. Dan
kenangan indah yang hilang akan membuat kita belajar untuk melepaskannya
seperti seteguk bir.
dan itu hanya segelas bir yang getir, seberapa banyak engkau menghabiskan, takkan pernah bisa mengembalikan hal yang hilang..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar