Adsensecamp

Sabtu, 10 Maret 2012

Bait Pertama (full version)

G                                             C
Karena langkah kebelakang
                         Em       D
Membuat luka semakin dalam
                 C            Bm-Bbm
Tak ada lain pilihan
Am                      D
Kecuali terus bertahan dibait pertama

[chorus] G 
         G C Em

G
di sini ku menggenggam takdir di tanganku
C
aku coba menahan tak menangisimu
   Am        D
di bait pertama
   Am        D
di bait pertama

  G
*sekuat kaki ini mencoba berlari
C
tetapi hati ini menuntunnya kembali
   Am        D
ke bait pertama
   Am        D
ke bait pertama

     G  D/F#        Em   D
berjalan hidupku tanpamu
           C  D
hidupku tanpamu di bait pertama

[int] G C Em 2x

G
sekuat kaki ini mencoba berlari
C
tetapi hati ini menuntunnya kembali
   Am        D
ke bait pertama
   Am        D
ke bait pertama

[solo] Em D-G G Em D
Em D-G G C D
G                                             C
Karena langkah kebelakang
                         Em       D
Membuat luka semakin dalam
                 C            Bm-Bbm
Tak ada lain pilihan
Am                      D
Kecuali terus bertahan
G                                    C
Dan di ujung lidah ini
                 Em               D
Ribuan kata menari
                 C                 Bm
Dan menuntunku kembali
Am                          D
Di bait pertama lagi




     G  D/F#        Em   D
berjalan hidupku tanpamu
           C  D
hidupku tanpamu
     G  D/F#        Em   D
bertahan karna menantimu
           C  D 
untuk menantimu di bait pertama

G                          C             Em
di sini ku menggenggam takdir di tanganku
G                    C           Em
aku coba menahan tak menangisimu

G
di sini ku menggenggam takdir di tanganku
aku coba menahan tak menangisimu

Rabu, 07 Maret 2012

“Pergi….Hilang….Rela….”


Disha, itulah aku, sore itu aku berjalan sendiri di taman, entah mengapa, langkahku menuntunku untuk berjalan di sore itu. Aku hanya mengikuti langkah kakiku waktu itu. Entah di sengaja atau tidak, aku melihat wajah yang tidak lagi asing buatku.  Dia seorang lelaki yang sedang duduk di bangku taman sendirian. Namanya Rio, “sedang apa dia di taman sendirian…?? Apa yang di lakukannya??”, aku hanya bergumam dalam hati.

“eh.. Disha…”, sapanya dengan nada datar. Tampak sedikit masalah di raut wajahnya waktu itu. Dia hanya duduk terdiam sambil memandangi danau di depannya. “tumben sendirian Yo,.. temen kamu pada kemana..??”, tanyaku membuka perbincangan kami. “lagi pengen sendiri aja…”, balasnya singkat. “oiya, mana Lia..?? biasanya bareng dia terus…??”,tanyaku. “wah, mungkin dia sedang sibuk, lagi ga ada waktu …”, dengan sedikit senyum palsu dia menjawab. “ada apa..?? ada masalah antara kamu dengan Lia…??”, tanyaku penasaran. Dia hanya terdiam.

“kamu ga mau di ganggu…?” , tanyaku karna merasa tidak enak hati. Dia masih terdiam. “yaudah, aku tinggal yah…??”. Belum sempat beranjak dari tempat duduk, Rio berbicara,”detik itu serasa cepat berlalu….”. aku kembali duduk di sebelahnya, “kenapa Rio…??”, tanyaku.

“detik itu serasa begitu cepat berlalu. Sepertinya belum lama sejak pertama kali bertemu dengan pemilik senyum itu. Kalau boleh berharap waktu kembali, aku ingin kembali ke waktu pertama melihat senyum indah itu, dan sekali lagi menikmati senyuman tulus yang belum termiliki.” Kata Rio. “siapa…?, cerita aja, mungkin bisa melegakanmu..” tawarku.

”Lia,.. entah sudah berapa lama aku ukir cerita dengannya. Dia beri dan dia bagi setiap marah dan candanya, awalnya aku berharap itu hanya untuk ku. Tapi harapan itu pupus. Skarang Lia telah ada yang memiliki, mungkin seorang yang memang pantas untuknya…??”,tambahnya. “apa yang kamu rasakan….??”, tanyaku. “hmm… aku pun tidak mengerti, aku bingung, seperti ada hal yang seharusnya ada, tapi kini hilang. Aku memang pernah bilang kalau Lia boleh dekat dengan siapapun yang dia suka, Lia boleh pacaran dengan orang yang dia suka, asalkan hal itu tidak mempengaruhi kedekatanku dengan Lia,kita juga sempat berjanji bahwa kita akan berbagi setiap hal dan Lia pun mengiyakan hal itu” jawabnya.

“kalian sudah begitu dekat, kalian pun sudah membuat kesepakatan, apa yang kamu risaukan..??”, tanyaku. “memang, tapi sekarang aku merasa kalau hubunganku dengan Lia merenggang, aku tak mengira bahwa akan secepat ini Lia dimiliki orang lain, tapi aku juga bilang bahwa aku akan selalu berusaha ada untuk Lia. Lia pun juga mengiyakan”, Jawabnya.

“terus sekarang apa yang akan kamu lakukan?”, tanyaku lagi. “aku melihat Sepertinya Lia Bahagia dengan hubungannya yang sekarang, Sepertinya Lia lebih bisa tersnyum lebar, tertawa lepas. Aku senang kalau Lia senang, Lia tak perlu tau apa yang aku rasakan tentang hal ini. Aku tak tau lagi kemana aku harus melarikan masalah ini. ya, yang bisa aku lakukan hanya diam dan melihatnya bahagia adalah bahagiaku juga”. Jawab Rio. “pasti sakit sekali rasanya, kehilangan orang yang kita sayang, apalagi kalau ternyata orang itu telah bersama orang lain, mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum kita bertemu dengan orang yang tepad.” Tambahku. “mungkin kamu benar, mungkin aku hanya perlu sedikit waktu untuk beradaptasi dengan semua ini…” sahut Rio. “atau mungkin kita memang harus merelakan orang yang kita sayangi pergi agar kita bisa belajar merelakan dan menjadi orang yang lebih baik lagi atau mungkin juga kita bertemu untuk berpisah dan berpisah untuk bertemu kembali….” Tambahku. “dan semua itu rencana Tuhan, dan rencana Tuhan itu pasti yang terbaik…” tambah Rio. “yah. God knows best….” Tambahku. “terima kasih Disha, memang sedikit lega rasanya, tak pernah kusangka hal ini sebelumnya, terima kasih yah.” Kata Rio. Aku hanya tersenyum kepadanya.

Perbincangan kami pun berakhir. Rio tak lagi terlihat seperti sebelumnya, senyumnya mulai terkambang dan darinya aku belajar bahwa kehilangan itu hal yang sangat menyakitkan, Rio berusaha menjaga apa yang dia miliki, Rio juga belajar merelakan, dan merelakan itu bukan hal yang mudah. Mungkin Rio adalah orang yang memiliki kehilangan. Kita takkan pernah tau apa yang kita miliki hingga nanti kita kehilangannya.

Kamis, 16 Februari 2012

Surat Untuk Sang Waktu

kepada pagi yg cerah tolong sampaikan kepada malam yang gelap yang selalu menyelimuti mimpi, bahwa hari ini kau kan datang menjemputnya dan akan mengajariku tuk membuka selimut malam dan menatihku berlari tuk mewujudkan impianku...

kepada siang yang terik, tolong sampaikan trimakasihku kepada pagi karena telah mengajariku membuka mata dan berlari hingga aku disini menjejakan kakiku disiang ini, dimana seluruh peluhku ku persembahkan untuk siang ini, siang dimana mimpiku telah aku genggam...

kepada senja yang hangat dan indah, sampaikanlah kepada siang terimakasihku yang besar, karena telah bersedia menjadi tempat berlabuhnya mimpiku, dan mengantarku dengan sabar kepadamu, kepada senja dimana sudah saatnya aku mulai mengusap peluhku, meluruskan kakiku, dan menyandarkan punggungku sambil menikmati keindahan langit senjamu yang menawan...

kepada malam yang gelap dan dingin, sampaikan kepada senja hari terimakasih yang tak terrhingga dariku untuknya, karena telah bersedia menjadi tempat bagiku untuk beristirahat dan menyuguhiku sebuah panorama senja yang menakjubkan...
dan tak lupa sampaikan juga kepada pagi dan siang hari ucapan selamat tinggal dan sampai jumpa, karena mereka telah menjadi teman dan sejarah dalam perjuangan dan perjalanan hidupku, mereka adalah alur hidup yang tak terlupakan...
dan untukmu malam hari, maaf karena sesungguhnya engkau adalah yang paling tidak ingin ku temui, karena engkau adalah waktu dimana aku harus mengakhiri hari yang menyenangkan ini..
tapi aku juga ingin berterima kasih karena kau telah bersedia menjadi tujuan akhir hidupku, dimana semua perjuangan, keringat, tenaga dan segalanya harus ku istirahatkan, dan memberiku banyak waktu luang untuk istrahat dalam gelapmu, gelap yang menenangkan jiwaku, hingga aku dapat melupakan "ketidak" sukaanku terhadapmu..

dan terimakasih untuk setiap waktu yang telah kalian semua luangkan untukku....

Itu Hanya Segelas Bir Yang getir

“Itu hanya segelas bir yang getir”
Fikirku ketika kulihat seorang  yang sedang duduk di dalam cafe di depan segelas bir yang tak lagi berbuih. Dia terlihat kalut dengan dasi yang terpasang sekenanya di kerah bajunya, rambut yang tak tahu kmana arah tujuannya,dan matanya yang berkantung mempertegas betapa dia sedang dalam kekalutan.
Ketika kudekati terlihat paras yang tak asing di mataku, paras yang selama ini terlihat bahagia dengan segala hal yang dia inginlan dapat dengan mudah terwujudkan. Dia seorang eksekutif muda yang bisa dibilang berhasil menjemput impiannya. “tapi apa yang dia lakukannya dengan keadaanya sekarang ini..???”, aku hanya bertanya dalam benakku.
Ku dekati perlahan, dan akupun duduk di hadapannya karena penasaran.”siapa kamu...?,malaikat maut...??”, tanyanya dengan mata yang sayup, terlihat putus asa dan tak tergambar harapan di dalamnya. “bukan pak..., saya disha tetangga bapak...”, jawabku.”mungkin bapak belum pernah melihat saya, karena saya perhatikan hampir setiap hari bapak tidak ada dirumah.” Lanjutku.”owh...” jawabnya singkat. “tumben sekali bapak mampir kesini...??”, tanyaku berusaha mencairkan suasana.”iya, sedang apa kamu disini..??” balasnya dengan sedikit ketidaksadaran bersamanya karena bir yang telah ia minum sebelumnya.”saya bekerja di cafe ini pak, part time sambil kuliah... bapak perlu teman..??” tanyaku melihat kondisinya yang sepertinya sedang dalam kebimbangan.
“semuanya hancur....!!”, tiba2 ia memukul meja dengan keras.”semuanya hanya tinggal impian yang mati, mimpi yang sudah lama ku bangun sekarang hanya tinggal puing2 yang tak lagi berguna..,.”. “jadi bapak kesini hanya sebagai tempat pelarian masalah..??”
“tapi itu hanya segelas bir yang getir, seberapa banyak engkau menghabiskan, takkan pernah bisa mengembalikan hal yang hilang..” fikirku.
“Coba ceritakan pak, mungkin bisa melegakan nafas bapak..” ajakku.lalu dia menunduk dan berkata, “disini bukan tempat pelarian, hanya untuk sejenak melupakan masalah....namanya nadia, orang yang selama ini aku cinta, hampir seluruh jiwa dan raga telah kucurahkan untuk nadia. Dia perempuan yang luar biasa, mulanya memang tak mudah mendapatkannya, butuh perjuangan yang hebat untuk mendapatkan nadia, jangankan memiliki, untuk mendekatinya merupakan hal yang luar biasa susah, butuh perjuangan, berharap nadia memiliki perasaan yang sama..”.
 ku perhatikan, raut wajahnya berubah seperti sedang mengenang seseorang yang sangat berharga di hidupnya.dengan sesekali meneguk bir yang tak lagi berbuih di hadapannya.


“itu bukan perjuangan yang sebentar, hingga akhirnya saya berhasil membuat nadia memiliki perasaan yang sama. Tapi.....” ceritanya terhenti sejenak.”tapi apa pak..?” tanyaku. Setelah kembali meneguk bir, dia kembali menceritakan kisahnya,”tapi.....hal yang paling saya elakan pun terjadi,nadia pergi dari hidup saya,semua harapan,janji,impian pergi bersama nadia, orang yang selama ini ku cinta,orang yang berharga  dalam hidup saya...bila bisa membuatnya kembali, akan kuberikan segalanya, meski segala yang ku punya....”.
Kulihat air mata mengalir bersama dengan diteguknya kembali segelas bir yang tak lagi berbuih itu.
“harapan itu akan selalu ada,  dan orang yang punya harapan adalah orang yang punya segalanya...”jawabku, dia hanya tersenyum dan berkata,”tapi harapan itu tidak bisa mengmbalikan nadia...”.”dan itulah hidup, dan hidup seperti segelas bir, kita bisa memesan berapapun bir yang kita mau,kita bisa meneguk bir sebanyak yang kita mau, kita bisa mengembalikan buih bir yang telah hilang, tapi bir yang kita pesan itu bukanlah bir yang sama dengan bir yang telah kita teguk,buih yang terbentuk buakanlah buih yang sama dengan buih yang telah hilang, dan bir yang telah kita teguk takkan bisa kita kembalikan lagi ke dalam gelas..”kataku.

dan itu hanya segelas bir yang getir, seberapa banyak engkau menghabiskan, takkan pernah bisa mengembalikan hal yang hilang..

“apa hubungannya hidup dengan bir...??”tanyanya. “hidup akan mengganti hal yang telah hilang itu dengan hal yang lebih baik, seperti halnya bir, mereka terlihat seperti bir yang sama di tiap tegukkan, tapi sesungguhnya mereka bir yang berbeda, dan bir yang berbeda itu menggantikan bir yang telah terteguk...”lalu dia tersenyum, diam dan menunduk memandangi segelas bir yang tak lagi berbuih dan hampir tak tersisa, seperti memikirkan segala obrolan yang kami bicarakan.
Hampir sepanjang malam itu dia bercerita, meluapkan segala kekalutan dan kegundahan hatinya. Dan malam itupun aku mendapat hal yang berharga, bahwa hal yang sesungguhnya kita tuju bukanlah materi. Tapi, hal yang kita tuju adalah kebahagiaan dan kasih sayang karena, kebahagiaan dan kasih sayang itu takkan pernah bisa tergantikan dengan berapapun materi yang kita miliki. Dan hidup akan selalu memberi hal yang terbaik. Dan kenangan indah yang hilang akan membuat kita belajar untuk melepaskannya seperti seteguk bir.

dan itu hanya segelas bir yang getir, seberapa banyak engkau menghabiskan, takkan pernah bisa mengembalikan hal yang hilang..

perkenalan

hai, gw riswano, bisa lu panggil "riswanto","wanto","anto" atau apalah yang menurut lu enak di denger...(hehehe..)
ini hari, pertama gw nyoba yang namanya "ngeblog", jadi ya maaf aja kalo agak2 norak...(hahaha), jadi gw belum ada rencana mau nulis apa..?,tentang apa? jdi gw biarin ide itu ngalir gitu aja...

tentang diri gw, gw cowok..(yaiyalah, lo feekeeeerrrr??), lahir di salah satu kabupaten di jawa tengah namanya kabupaten Grobogan (ada yang pernah denger..?? emang agak freak , emang siapa yang mau tinggal di daerah yang namanya "Grobog"...hahaha), tanggal 6 juni 1992,
gw suka sheila on 7 (bisa di bilang gw sheilagank walaupun gw g terlalu tau banyak tentang mereka...),
gw punya mimpi buat bisa nyanyi satu panggung bareng mereka ya, gw tau suara gw aneh musik kemana, suara kemana??? hahaha...
jadi kayak ayu ting-ting donk (kemana, kemana, kemana........) gubraaakkk....!!!
gw punya banyak mimpi, dan gw orang yang berharap kalo mimpi itu suatu saat bisa gw raih.....
sekarang gw tinggal di tangerang,sebenernya masih banyak yang pengen gw expose tentang diri gw, tapi gw rasa dah cukup lah segini (kalo kebanyakan malah kaya mau ngelamar kerja tar gw...hahaha...)
dan salam blogger.......
hehehe...:D