Disha, itulah aku, sore itu aku berjalan sendiri di
taman, entah mengapa, langkahku menuntunku untuk berjalan di sore itu. Aku
hanya mengikuti langkah kakiku waktu itu. Entah di sengaja atau tidak, aku
melihat wajah yang tidak lagi asing buatku.
Dia seorang lelaki yang sedang duduk di bangku taman sendirian. Namanya Rio,
“sedang apa dia di taman sendirian…?? Apa yang di lakukannya??”, aku hanya
bergumam dalam hati.
“eh.. Disha…”, sapanya dengan nada datar. Tampak sedikit
masalah di raut wajahnya waktu itu. Dia hanya duduk terdiam sambil memandangi
danau di depannya. “tumben sendirian Yo,.. temen kamu pada kemana..??”, tanyaku
membuka perbincangan kami. “lagi pengen sendiri aja…”, balasnya singkat. “oiya,
mana Lia..?? biasanya bareng dia terus…??”,tanyaku. “wah, mungkin dia sedang
sibuk, lagi ga ada waktu …”, dengan sedikit senyum palsu dia menjawab. “ada
apa..?? ada masalah antara kamu dengan Lia…??”, tanyaku penasaran. Dia hanya
terdiam.
“kamu ga mau di ganggu…?” , tanyaku karna merasa tidak
enak hati. Dia masih terdiam. “yaudah, aku tinggal yah…??”. Belum sempat
beranjak dari tempat duduk, Rio berbicara,”detik itu serasa cepat berlalu….”.
aku kembali duduk di sebelahnya, “kenapa Rio…??”, tanyaku.
“detik itu serasa begitu cepat berlalu. Sepertinya belum
lama sejak pertama kali bertemu dengan pemilik senyum itu. Kalau boleh berharap
waktu kembali, aku ingin kembali ke waktu pertama melihat senyum indah itu, dan
sekali lagi menikmati senyuman tulus yang belum termiliki.” Kata Rio. “siapa…?,
cerita aja, mungkin bisa melegakanmu..” tawarku.
”Lia,.. entah sudah berapa lama aku ukir cerita
dengannya. Dia beri dan dia bagi setiap marah dan candanya, awalnya aku
berharap itu hanya untuk ku. Tapi harapan itu pupus. Skarang Lia telah ada yang
memiliki, mungkin seorang yang memang pantas untuknya…??”,tambahnya. “apa yang
kamu rasakan….??”, tanyaku. “hmm… aku pun tidak mengerti, aku bingung, seperti
ada hal yang seharusnya ada, tapi kini hilang. Aku memang pernah bilang kalau
Lia boleh dekat dengan siapapun yang dia suka, Lia boleh pacaran dengan orang
yang dia suka, asalkan hal itu tidak mempengaruhi kedekatanku dengan Lia,kita
juga sempat berjanji bahwa kita akan berbagi setiap hal dan Lia pun mengiyakan
hal itu” jawabnya.
“kalian sudah begitu dekat, kalian pun sudah membuat
kesepakatan, apa yang kamu risaukan..??”, tanyaku. “memang, tapi sekarang aku
merasa kalau hubunganku dengan Lia merenggang, aku tak mengira bahwa akan
secepat ini Lia dimiliki orang lain, tapi aku juga bilang bahwa aku akan selalu
berusaha ada untuk Lia. Lia pun juga mengiyakan”, Jawabnya.
“terus sekarang apa yang akan kamu lakukan?”, tanyaku
lagi. “aku melihat Sepertinya Lia Bahagia dengan hubungannya yang sekarang,
Sepertinya Lia lebih bisa tersnyum lebar, tertawa lepas. Aku senang kalau Lia
senang, Lia tak perlu tau apa yang aku rasakan tentang hal ini. Aku tak tau
lagi kemana aku harus melarikan masalah ini. ya, yang bisa aku lakukan hanya
diam dan melihatnya bahagia adalah bahagiaku juga”. Jawab Rio. “pasti sakit
sekali rasanya, kehilangan orang yang kita sayang, apalagi kalau ternyata orang
itu telah bersama orang lain, mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan
beberapa orang yang salah sebelum kita bertemu dengan orang yang tepad.” Tambahku.
“mungkin kamu benar, mungkin aku hanya perlu sedikit waktu untuk beradaptasi
dengan semua ini…” sahut Rio. “atau mungkin kita memang harus merelakan orang
yang kita sayangi pergi agar kita bisa belajar merelakan dan menjadi orang yang
lebih baik lagi atau mungkin juga kita bertemu untuk berpisah dan berpisah
untuk bertemu kembali….” Tambahku. “dan semua itu rencana Tuhan, dan rencana
Tuhan itu pasti yang terbaik…” tambah Rio. “yah. God knows best….” Tambahku. “terima kasih
Disha, memang sedikit lega rasanya, tak pernah kusangka hal ini sebelumnya,
terima kasih yah.” Kata Rio. Aku hanya tersenyum kepadanya.
Perbincangan kami pun berakhir. Rio tak lagi terlihat
seperti sebelumnya, senyumnya mulai terkambang dan darinya aku belajar bahwa
kehilangan itu hal yang sangat menyakitkan, Rio berusaha menjaga apa yang dia
miliki, Rio juga belajar merelakan, dan merelakan itu bukan hal yang mudah.
Mungkin Rio adalah orang yang memiliki kehilangan. Kita takkan pernah tau apa
yang kita miliki hingga nanti kita kehilangannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar